Kelelahan klinis adalah kondisi kelelahan fisik dan mental yang nyata dan signifikan, bukan sekadar “capek biasa.” Kondisi ini juga berpengaruh pada kemampuan kognitif seseorang.Pada pekerja yang jam kerjanya panjang atau tidak teratur, risiko mengalami kelelahan klinis menjadi tinggi. Namun, penting untuk membedakan antara kelelahan biasa dan kelelahanklinis (fatigue) ini.
Kelelahan klinis berbeda dari burnout, dimana menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout adalah sindrom yang muncul akibat stres kronis dari pekerjaan sehari-hari, lebih berfokus pada aspek mental dan emosional, meskipun gejala fisik bisa menyertainya.Kelelahan klinis sendiri mencakup penurunan energi fisik, mental serta kognitif yang luar biasa dan berkepanjangan, memengaruhi kemampuan seseorang untuk beraktivitas sehari-hari.
Dampak Kelelahan Klinis
Kelelahan klinis bukan hanya “merasa capek,” melainkan membawa dampak serius bagi individu maupun perusahaan. Beberapa dampak yang akan muncul, yaitu :
1. Penurunan kinerja & produktivitas
Konsentrasi menurun, kurang tanggap, kesalahan meningkat. Hal ini diamati pada tenaga kerja umum maupun tenaga medis. (Caldwell, Caldwell, Thompson, & Lieberman, 2019)
2. Risiko kecelakaan & cedera
Kelelahan meningkatkan peluang kecelakaan kerja atau kesalahan operasional. Occupational Safety and Health Administration (OSHA) menyebutkan bahwa terjadi peningkatan korelasi antara jam kerja panjang dan kecelakaan pada pekerja.
Misalnya, dalam studi yang dilakukan oleh American Society of Safety Professionals (ASSP) tahun 2019, mengenai pemantauan kelelahan memakai sensor wearable untuk mendeteksi perubahan performa pekerja dari jam ke jam. Hal ini bertujuan agar perusahaan dapat melakukan intervensi lebih cepat dan bisa mengurangi resiko, baik bagi individu ataupun bagi perusahaan sendiri.
3. Kerusakan kesehatan jangka panjang
Risiko penyakit kardiovaskular, gangguan metabolik (seperti: diabetes), gangguan tidur kronis, depresi, bahkan gangguan imun. Penelitian pada pekerja shift dan jam kerja panjang menunjukkan peningkatan risiko obesitas, penyakit jantung, dan gangguan psikologis. (Caruso, 2014)
4. Penurunan kesejahteraan & interaksi sosial
Banyak individu yang kelelahan menjadi mudah marah, menarik diri, atau kehilangan minat pada aktivitas sosial. Akibatnya apa? Kualitas hidup pun menjadi menurun.
5. Masalah ekonomi & kerugian perusahaan
Akumulasi kelelahan menyebabkan absensi, cuti sakit, penurunan kinerja kerja, atau turnover karyawan yang tinggi. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), kelelahan kerja terkait dengan biaya produktivitas yang besar. (Vixama, Wong, & Swanson, 2023)
Perlu dicatat bahwa kelelahan klinis berbeda dengan burnout:
Kelelahan klinis mencakup kelelahan fisik, mental dan kognitif.
Sedangkan burnout lebih merujuk ke kelelahan emosional / mental terkait pekerjaan (misalnya kehilangan motivasi, acuh tak acuh terhadap pekerjaan).
Keduanya bisa saling memicu, tetapi penyebab, manifestasi, dan penanganannya tidaklah sama.
Strategi Pencegahan dan Penanganan Kelelahan Klinis
Berikut langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan oleh individu maupun perusahaan untuk mencegah terjadinya kelelahan klinis:
Untuk individu
1. Kelola jam kerja & jam istirahat
Bila memungkinkan, batasilah jam kerja agar tidak berlebihan. Terapkan istirahat singkat (micro-breaks) setiap 1–2 jam. Penelitian menunjukkan jeda pendek yang dilakukan secara rutin lebih efektif untuk menjaga kewaspadaan pekerja.
Contoh: 5 menit berdiri, stretching ringan, atau berjalan sebentar.
2. Tingkatkan kualitas tidur
o Usahakan tidur cukup (7–9 jam bagi dewasa sehat).
o Ciptakan lingkungan tidur yang gelap, sejuk, dan tenang.
o Hindari layar gadget setidaknya 30 menit sebelum tidur.
o Usahakan tidur dan bangun di jam yang sama (konsisten).
3. Lakukan aktivitas fisik & relaksasi
Olahraga ringan secara rutin membantu pemulihan energi. Teknik relaksasi (napas dalam, meditasi singkat) dapat meredakan ketegangan mental.
4. Manajemen beban kerja & skala prioritas
Belajarlah menetapkan batas, delegasi tugas bila bisa, dan fokus pada urutan prioritas. Hindari multitasking yang berlebihan.
5. Perhatikan kondisi kesehatan
Bila ada gejala seperti sesak napas, palpitasi (jantung berdebar), anemia, gangguan hormon tiroid, atau masalah mental (depresi, kecemasan), segera konsultasi ke tenaga kesehatan.
Untuk perusahaan / pengelola tempat kerja :
1. Atur jadwal kerja yang sehat
Hindari shift malam yang beruntun, batasi jam lembur, dan sediakan rotasi yang memperhatikan kebutuhan pemulihan pekerja.
2. Penerapan program kesadaran kelelahan (fatigue awareness)
Pelatihan kepada karyawan tentang gejala kelelahan, strategi pencegahan, dan penggunaan tools, misalnya wearables device (seperti : aplikasi Goodeva Smartsafety) untuk meningkatkan kesadaran pekerja tentang kondisi tubuhnya dan mencegah terjadinya kelelahan klinis.
3. Sediakan ruang istirahat yang memadai
Ruang tenang untuk tidur sebentar (nap room) atau ruang relaksasi bisa membantu pemulihan lebih cepat pada pekerja.
4. Pantau beban kerja & gunakan fasilitas yang ergonomis
Pastikan beban tugas seimbang dan fasilitas-fasilitas di tempat kerja, seperti meja, kursi serta pencahayaan mendukung kenyamanan saat bekerja.
5. Gunakan teknologi monitoring & intervensi proaktif
Teknologi wearable mampu membantu mendeteksi tanda awal kelelahan sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat.
Peran Wearable Device dalam Mendeteksi & Menangani Kelelahan Klinis
Berbagai penelitian terkini menunjukkan bahwa wearable device (misalnya smartwatch, smartband, smartring, dan lainnya) memiliki potensi besar untuk memantau tanda-tanda kelelahan secara real-time. Apa saja yang bisa kita lakukan dengan wearable device ini?
1. Monitoring fisiologis terus-menerus
Wearable dapat mengukur data seperti detak jantung, variabilitas denyut jantung (HRV), aktivitas fisik (akselerometer), pola tidur, respons galvanik kulit (GSR), suhu kulit, dan pola napas. Pada aplikasi Goodeva Smartsafety, data ini akan dipakai oleh machine learning/AI untuk memperkirakan tingkat kelelahan. Sehingga akan memberikan informasi yang real-time tentang kondisi tubuh pekerja, khususnya status kelelahan pekerja. (Adão Martins, Annaheim, Spengler, & Rossi, 2021)
Namun, masih banyak studi yang dilakukan dengan skala kecil di lingkungan laboratorium, sehingga masih diperlukan validasi di lingkungan dunia nyata dengan skala yang lebih besar. (Adão Martins, Annaheim, Spengler, & Rossi, 2021)
2. Deteksi dini & peringatan real-time
Sistem wearable yang dirancang dengan baik dapat memberi peringatan kepada pengguna ketika mendeteksi pola fisiologis yang menunjukkan kelelahan (misalnya HRV menurun, durasi tidur terganggu) sehingga pengguna dapat beristirahat sebelum kelelahan meningkat menjadi kelelahan klinis.
3. Intervensi berbasis data
Berdasarkan data, wearable bisa mendukung rekomendasi personal seperti “waktu istirahat optimal,” “durasi tidur target,” atau “aktivitas ringan yang disarankan.”Rekomendasi ini diberikan spesifik untuk masing-masing individu, sehingga bisa berbeda antara satu pengguna dengan pengguna lainnya. Hal ini dapat meningkatkan kesadaran diri pengguna terhadap kondisi tubuhnya sendiri.
4. Penelitian & evaluasi kesehatan populasi
Data besar (big data) dari wearable memungkinkan analisis tren kelelahan di populasi pekerja dan pengembangan strategi intervensi berbasis bukti bagi perusahaan. (Huhn et al., 2022)
Tantangan & Keterbatasan
Akurasi sensor—beberapa perangkat yang dijual di pasaran belum setara alat klinis yang merupakan gold standard. (Reifman, Priezjev, & Vital-Lopez, 2024)
Validasi di lingkungan nyata masih terbatas. (Adão Martins, Annaheim, Spengler, & Rossi, 2021)
Isu privasi & keamanan data
.
Ketaatan pengguna (kesediaan memakai secara konsisten) menjadi tantangan praktis.
Sebuah studi menyebutkan bahwa penggunaan wearable dalam pemantauan kelelahan pada pekerja berhasil menemukan perubahan performa sepanjang shift, sehingga
intervensi seperti istirahat atau rotasi tugas bisa diterapkan lebih efektif dan real-time. (American Society of Safety Professionals, 2019)
Selain itu, sebuah ulasan menyimpulkan bahwa wearable merupakan solusi yang “sangat menjanjikan” untuk pemantauan kelelahan noninvasif dalam konteks kerja dan kesehatan kerja. (Adão Martins, Annaheim, Spengler, & Rossi, 2021)
Integrasi dengan Aplikasi Goodeva Smartsafety sebagai Solusi Praktis
Agar teknologi wearable benar-benar bermanfaat bagi pekerja, integrasi dengan aplikasi
manajemen kesehatan sangat penting. Inilah peran yang bisa dijalankan oleh aplikasi seperti Goodeva Smartsafety:
Integrasi sensor & data wearable
Goodeva Smartsafety dapat terhubung ke perangkat wearable (misalnya smartband, smartwatch) dan mengumpulkan data objektif pengguna, seperi: HRV, pola tidur, dan aktivitas secara real-time dan terus-menerus.
Analisis kelelahan personal
Berdasarkan data yang dikumpulkan, Goodeva Smartsafety bisa menerapkan
algoritma (machine learning) untuk memperkirakan tingkat kelelahan pengguna. Jika ambang tertentu tercapai, aplikasi dapat memunculkan peringatan atau saran
intervensi dengan cepat.
Saran intervensi berbasis data
Misalnya, aplikasi menyarankan waktu istirahat selama 10 menit, aktivitas ringan, atau jeda pendek (mikropause) bila mendeteksi pola kelelahan meningkat.
Pelacakan jangka panjang & pelaporan
Goodeva Smartsafety bisa menyajikan grafik tren kelelahan harian, mingguan, atau bulanan. Hal ini membantu pengguna dan pengelola HR dalam memahami pola, faktor pemicu, dan evaluasi intervensi.Dengan integrasi seperti ini, wearable bukan hanya sensor pasif, tetapi menjadi alat proaktif untuk mencegah kelelahan klinis pada pengguna, khususnya pekerja. (Goodeva Technology, n.d.)
Kesimpulan & Rekomendasi
Kelelahan klinis pada pekerja dengan jam kerja panjang adalah masalah nyata dengan
konsekuensi serius bagi kesehatan, produktivitas, dan keselamatan kerja. Kondisi kompleks ini disebabkan mulai dari jam kerja yang berlebihan, gangguan tidur, beban mental, hingga gaya hidup. Dampaknya mencakup penurunan kinerja pekerja, risiko kecelakaan, hingga penyakit kronis.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan intervensi individu ataupun perusahaan, seperti:
pengaturan jam kerja, peningkatan kualitas tidur, manajemen beban kerja, serta dukungan lingkungan kerja dari perusahaan. Dalam konteks teknologi modern, wearable device menyediakan pendekatan yang menarik untuk deteksi dini dan pemantauan berbasis data yang real-time.
Dengan dukungan aplikasi seperti Goodeva Smartsafety, wearable dapat menjadi bagian dari solusi nyata untuk menghubungkan data objektif ke rekomendasi intervensi personal, memantau tren kelelahan, serta membantu pengguna dan perusahaan membuat kebijakan atau tindakan preventif yang lebih efektif. Oleh karena itu, dalam menghadapi kelelahan klinis, pemanfaatan smart device terintegrasi dengan aplikasi kesehatan seperti Goodeva Smartsafety merupakan salah satu solusi praktis dan modern yang patut dipertimbangkan.